Manajemen Pendidikan
Kamis, 21 Maret 2019
Manajemen pendidikan
Nama: Ade Novita Sari Hutabarat
NPM: 1802040048
Kelas : 2A pagi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
1. Tuliskan 3 defensisi tentang Manajemen Peserta Didik, dua dari ahli(sebutkan sumbernya) dan satu defenisi dari diri sendiri?
Jawab:
Menurut Husaini Usman dalam buku The Handbook of Education Management manajemen pendidikan adalah seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyrakat, bangsa dan negara.
Menurut Handari Nawawi (1983: 11) dalam buku The Handbook of Education Management manajemen pendidikan adalah ilmu terapan dalam bidang pendidikan yang merupakan rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerja sama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal.
Dari pendapat ahli tersebut saya menyimpulkan bahwa manajemen adalah seni atau ilmu terapan dalam pendidikan demi mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan baik di lembaga pendidikan formal ataupun non-formal.
2. Bagaimana proses pengelolaan pendaftaran siswa baru yang baik menurut Anda?
Jawab:
a. Mengisi formulir pendaftar
b. Menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi
c. Menanyakan apakah informasi yang diberi sudah jelas atau belum
d. Menanyakan adakah informasi yang ingin ditanyakan lebih rinci?
e. calon pendaftar menerima surat bukti pendaftaran.
f. Melakukan pendaftaran ulang bagi siswa yang sudah diterima. Pendaftaran ulang ini diperlukan untuk mendata kembali siswa yang benar-benar ingin masuk ke tahun ajaran baru. Pendaftaran ulang dilakukan untuk mengetahui adakah dari siswa yang diterima tapi mengundurkan diri.
3. Bagaimana cara membangun disiplin siswa?
Jawab:
a. Membuat kesepakatan dengan siswa dan memberi hukuman bagi yang melanggar.
b. Mencontohkan sikap disiplin kepada siswa. Bagaimana bisa kita menyuruh siswa disiplin jika kita tidak bersikap disiplin, jadi kita juga harus mencontohkannya kepada siswa.
c. Memberi gambaran yang memotivasi.
4. Bagaimana pelaksanaan manajemen siswa di Indonesia dan bandingkan dengan dunia internasional?
Jawab:
Pelaksanaan manajemen siswa di Indonesia berdasarkan buku Manajemen Pendidikan Masa Kini : 1. melaksanakan seleksi penerimaan siswa baru berdasarkan minat dan bakat, 2. membentuk struktur organisasi osis, dengan kegiatan pemilu osis, 3. meningkatkan prestasi siswa dalam lomba keterampilan siswa, sanggar seni, olimpiade dan lain-lain, 4. meningkatkan permintaan rekrutmen tamatan dari dunia usaha dan industri. Sedangkan
Pelaksanaan manajemen siswa di dunia internasional berdasarkan artikel yang dimuat dalam blog bombastis tentang perbedaan mendasar sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri: 1. Tidak mengurangi masa bermain anak-anak. Di Indonesia anak-anak sudah mulai belajar sejak usia dini hal ini disebabkan ada persyaratan khusus ketika sang anak masuk sekolah dasar, minimal sudah dapat membaca. Hal ini memicu kurangnya masa-masa bemain anak-anak dan mereka akan mulai mengenal stres. Tapi jika di luar negeri contohnya di Finlandia, seorang anak dapat mulai masukke jenjang pendidikan dasar ketika mereka sudah berusia tujuh tahun. Sebelum itu, maka merekaa dapat mengeksplorasi apa yang mereka inginkan salah satunya bermain.
2. Luar negeri tidak ada kelas unggulan dan kelas biasa.
Di luar negeri mereka hanya mengumpulkan siswa berdasarkan jumlah saja seperti 1A dan 1B. Sedangkan di Indonesia ada pembagian kelas unggulan dan kelas biasa yang justru menciptakan tembok pembatas antara siswa pintar dan yang biasa.
3. Jam belajar tidak berlebih.
Di luar negeri, jam belajar yang berbau teori sangat terbatas dan selebihnya diisi oleh praktik. Sedangkan di Indonesia sebelumnya menganut sistem spoon feeding, sehingga guru adalah satu-satunya sumber informasi. Selain itu, tambhan ekstrakulikuler sampai dengan kursus atau bimbel juga menambah panjang waktu belajar yang mengakibatkan penat dan capek yang tidak hanya fisik saja juga pikiran,
4. Masa orientasi di awal masuk sekolah.
Di Indonesia OSPEK selalu diisi dengan aktivitas yang didominasi dengan mempermalukan para orang baru. Sedangkan di luar negeri contohnya di Amerika Serikat justru dilakukan dengan cara lebih positif. Para siswa atau mahasiswa diajak berkeliling dan mengikuti beberapa seminar juga kajian agar mereka lebih mengenal sekolah dan kampusnya.
5. Hasil akhir adalah bukan segalanya
Contohnya di Australia, hasil akhir bukanlah segalanya. Semua pendidik akan lebih menitikberatkan pada sektor prosesnya daripada hasil akhir. Jika dalam prosesnya saja berantakan, maka dapat diketahui pula bahwa hasil akhirnya juga kacau.
review jurnal
JURNAL REPORT
Review Jurnal Managemen Pendidikan
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI, GAYA
KEPEMIMPINANSEKOLAH, DAN MOTIVASI KERJA GURU TERHADAP KOMITMEN
KERJA GURU DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI
KOTA TEBING TINGGI

Disusun
Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur Yang Diwajibkan
Dalam
Mengikuti Perkuliahan Manajemen Pendidikan
Oleh,
Ade
Novita Sari Hutabarat (1802040048)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
TAHUN
2019
KATA PENGANTAR
Dengan Menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Saya panjatkan puja
dan puji syukur atas kehadirat-nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya
kepada saya ,sehingga saya dapat menyelesaikan tugas terstruktur yaitu me-review jurnal.
Review Jurnal
ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan ini. Untuk itu saya menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
review jurnal ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya
bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu, saya menerima saran dari pembaca agar saya dapat
memperbaiki review jurnal ini.
Akhir kata saya berharap semoga review jurnal ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat dan sumber
pengetahuan bagi pembaca.
Medan, 20 Maret 2019
Ade Novita Sari Hutabarat
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ..................................................................................................... 2
DAFTAR
ISI ........... 3
BAB I. PENDAHULUAN
a.
Manfaat Critical Journal Review .............................................................. 4
b.
Tujuan Penulisan Critical Journal
Reviw ................................................................................................. 4
c.
Identitas journal yang direview ......................................................................................................... 4
BAB II RINGKASAN ISI ARTIKEL
A. Pendahuluan ................................................................................................... 5
B. Deskripsi isi .................................................................................................... 6
BAB III PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Jurnal ........................................................................................ 7
B.
Kekurangan dan kelebihan jurnal................................................................... 8
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................. 9
DAFTAR
PUSTAKA ...................................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Manfaat Critical Journal Review
Critical
Journal Review bermanfaat untuk mengetahui bagaimana peranan kepemimpinan
kepala sekolah , bagaimana memotivasi kerja guru di SMA negeri kota Tebing
Tinggi.
B.
Tujuan Penulisan Critical Journal Review
Bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui:
(1) Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Guru, (2) Pengaruh Gaya
Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Motivasi Kerja Guru, (3) Pengaruh Budaya
Organisasi Terhadap Komitmen Kerja Guru, (4) Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala
Sekolah Terhadap Komitmen Kerja Guru, dan (5) Pengaruh Motivasi Kerja Guru
Terhadap Komitmen Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Tebing Tinggi
C.
Identitas Journal yang di-review
1.
Judul : PENGARUH BUDAYA
ORGANISASI, GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, DAN MOTIVASI KERJA GURU TERHADAP
KOMITMEN KERJA GURU DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI KOTA TEBING TINGGI
2.
Nama Journal : Jurnal Manajemen dan Pendidikan
3.
Edisi Terbit : vol 9, No 2 tahun
2017
4.
Penulis Jurnal: Lidya Afriani L. Tobing1, Saut Purba2,
Benyamin Situmorang3
5.
Penerbit : Pascasarjana Universitas Negri Medan
6.
Kota terbit : Medan
7.
Nomor ISSN : 1979-6684
8.
Alamat Link : https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/jmpi/article/view/9732/8879
BAB
II
RINGKASAN
ISI ARTIKEL
A.
Pendahuluan
Sekolah
sebagai lembaga pendidikan dan suatu organisasi haruslah selalu mengikuti
perkembangan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, serta tuntutan
masyarakat sebagai pengguna jasa dan layanan. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan formal terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan, yaitu
kepala sekolah, guru, pegawai, konselor, siswa, serta komite sekolah yang
digolongkan sebagai sumber daya manusia yang saling bekerjasama untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditentukan.
Guru
merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal
pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan
menjadi tokoh identifikasi diri.
Begitu
mulianya tugas dan tanggung jawab seorang guru bila betul-betul memiliki
komitmen yang tinggi dalam memberhasilkan pendidikan. Menurut Luthans
(2006:249) komitmen adalah sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada
organisasi dan proses berkelanjutan dimana anggota organisasi mengekspresikan
perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang
berkelanjutan. Hal ini menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki komitmen yang
tinggi akan menunjukkan usaha sebaik mungkin dalam bekerja agar visi dan
misinya tercapai.
Glasser
(1967) menyatakan orang yang memiliki komitmen terhadap tugas yang tinggi biasanya
menunjukkan loyalitas dan kemampuan
profesionalnya.Loyalitas yang tinggi kepada atasan atau lembaganya biasanya
menunjukkan: (1) kepatuhan, (2) rasa hormat, (3) kesetiaan, (4) disiplin yang
tinggi.Colquitt, LePine, Wasson (2009:34) menjelaskan hal-hal yang mempengaruhi
komitmen organisasi adalah cara kerja seseorang yaitu berupa variabel: kepuasan
kerja, beban/tekanan kerja, motivasi, kepercayaan terhadap keadilan, dan
kemampuan pengambilan keputusan. Selanjutnya dijelaskan variabel yang
mempengaruhi cara kerja seseorang (individual
mechanisms) adalah: (1) mekanisme pekerjaan seseorang yaitu budaya
organisasi dan struktur organisasi; (2) mekanisme kelompok yaitu gaya dan
perilaku pemimpin, kekuatan pemimpin dan pengaruhnya, tim kerja, karakter dari
tim; (3) karakter indvidu yaitu berupa kepribadian dan nilai budaya seseorang;
dan (4) kemampuan seseorang.
Dari
pendapat beberapa ahli tersebut tentang faktor
yang mempengaruhi komitmen kerja, maka
ada beberapa faktor yang layak untuk dikaji yaitu faktor budaya organisasi,
gaya kepemimpinan kepala sekolah, dan
motivasi kerja guru.
Sagala
(2012) mengungkapkan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen, karena
kepemimpinan merupakan motor penggerak dari semua sumber-sumber dan alat-alat
yang tersedia bagi suatu organisasi.Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang
anggotanya dapat merasakan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi, baik kebutuhan
bekerja, motivasi, rekreasi, kesehatan, sandang, pangan, tempat tinggal, maupun
kebutuhan lainnya yang pantas didapatkannya.
Sutrisno
menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan suatu kekuatan sosial yang tidak
tampak,yang dapat menggerakkan orang-orang dalam suatu organisasi untuk
melakukan aktivitas kerja.Agar guru memiliki motivasi yang kuat, mereka harus
bekerja dalam lingkungan sekolah atau budaya organisasi yang kondusif.Budaya
organisasi yang baik akan memberikan dorongan (motivasi) kepada setiap individu
yang ada, dan dalam struktur organisasi tersebut harus dapat bekerja dengan
nyaman dan maksimal. Sebaliknya budaya organisasi yang kurang mendukung akan
mempengaruhi motivasi kerja. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya
meningkatkan gairah kerja guru, agar guru mau bekerja keras dengan
menyumbangkan segenap kemampuan, pikiran, keterampilan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan.
B.
Deskripsi isi
Berdasarkan
hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah beberapa SMA Negeri di Kota Tebing
Tinggi menunjukkan bahwa komitmen kerja guruguru masih relatif rendah. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya beberapa kesimpulan yang didapat yaitu:
(1) kurangnya disiplin guru, masih banyak guru
yang datang terlambat dan pulang sebelum waktu yang ditentukan,
(2)
Rancangan Program Pembelajaran (RPP) yang begitu-begitu saja dari tahun ke
tahun,
(3)
jarangnya guru melakukan inovasi untuk pengembangan bahan ajar,
(4)
guru masih mengajar dengan cara yang monoton,
(5)
guru-guru yang sudah sertifikasi terkesan bekerja dengan cara terpaksa, hal ini
terlihat dari guru yang jarang sekali memberikan penjelasan kepada peserta
didik.
Pengumpulan data dari penelitian ini diperoleh
dengan menggunakan kuesioner(angket) yang merupakan teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan tertulis kepada
reponden untuk dijawabnya dan cocok untuk digunakan bila jumlah respondennya
cukup besar dan tersebar dalam wilayah yang luas
Sugiyono(2012:199).
Angket yang digunakan menggunakan skala likert untuk mengukur budaya
organisasi, gaya kepemimpinan kepala sekolah, dan motivasi kerja guru terhadap
komitmen kerja guru. Tiap kisi-kisi dibuat menjadi butir-butir soal dengan lima
alternatif jawaban, yaitu:
(a)
sangat sering,
(b)
sering,
(c)
kadang-kadang,
(d)
jarang, dan
(e)
tidak pernah.
Pernyataan-pernyataan
yang digunakan dalam instrumen pernyataan, untuk jawaban positif Sangat Sering
(SS) diberi skor 5, Sering (S) diberi skor 4, Kadang-Kadang (KK) diberi skor 3,
Jarang (J) diberi skor 2, dan Tidak Pernah (TP) diberi skor 1.
Data yang telah diperoleh dari penelitian ini
dideskripsikan menurut masing-masing variabel. Gambaran umum setiap variabel
ditampilkan dalam bentuk skor rata-rata (mean),
skor terendah, skor tertinggi, median (Me), modus (Mo), standar deviasi (SD),
setiap variabel yang diteliti. Untuk menguji hubungan antar variabel secara
sendiri-sendiri dianalisis dengan teknik korelasi sederhana. Sedangkan hubungan
variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat digunakan teknik
analis korelasi ganda. Disamping itu dihitung juga koefisien determinasi untuk
mengetahui besarnya kontribusi setiap variabel bebas terhadap variabel terikat
sebelum dicari harga-harga yang diperlukan akan dibuat terlebih dahulu
tabeldistribusi frekuensi dan histogram untuk setiap variabel penelitian.
Berdasarkan
kajian teori, kajian penelitian, dan kerangka berfikir maka dapat dirumuskan
hipotesis, yaitu:
1)
Budaya organisasi berpengaruh langsung positif terhadap motivasi kerja guru.
2)
Gaya kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh langsung positif terhadap motivasi kerja guru.
3)
Budaya organisasi berpengaruh langsung positif terhadap komitmen kerja.
4)
Gaya kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh langsung positif terhadap komitmen
kerja.
5)
Motivasi kerja berpengaruh langsung positif terhadap komitmen kerja.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pembahasan Jurnal
1.
Pembahasan isi jurnal
Kepemimpinan
menurut artikel yang direview pada jurnal pengaruh budaya organisasi, gaya
kepemimpinan kepala sekolah, dan motivasi kerja guru terhadap komitmen kerja
guru di sekolah menengah atas negeri kota Tebing Tinggi. Sagala (2012) mengungkapkan bahwa kepemimpinan merupakan inti
dari manajemen, karena kepemimpinan merupakan motor penggerak dari semua
sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia bagi suatu organisasi. Sedangkan
dalam jurnal Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Manajemen Konflik
Berbasis Sekolah dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru Di SMA Negeri Aceh
Tamiang Kepemimpinan kepala sekolah sangat
menentukan keberhasilan sekolah.Sebuah organisasi akan berhasil atau gagal
sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan. Demikian juga, keberhasilan
sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah karena kepala sekolah memiliki
kekuatan sentral yang menjadi penggerak dan pengendali kehidupan sekolah.
Berdasarkan pendapat di atas kepemimpinan
adalah hal terpenting dalam organisasi, termasuk dalam kehidupan sekolah,
kepemimpinan seseorang yang baik akan menghasilkan hal yang baik pula. Pemimpin
adalah roda penggerak dalam suatu organisasi.
2.
Pembahasan tentang masalah kinerja guru
Berdasarkan
hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah beberapa SMA Negeri di Kota Tebing
Tinggi menunjukkan bahwa komitmen kerja guruguru masih relatif rendah. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya beberapa kesimpulan yang didapat yaitu: (1) kurangnya
disiplin guru, masih banyak guru yang datang terlambat dan pulang sebelum waktu
yang ditentukan, (2) Rancangan Program Pembelajaran (RPP) yang begitu-begitu
saja dari tahun ke tahun, (3) jarangnya guru melakukan inovasi untuk
pengembangan bahan ajar, (4) guru masih mengajar dengan cara yang monoton, (5)
guru-guru yang sudah sertifikasi terkesan bekerja dengan cara terpaksa, hal ini
terlihat dari guru yang jarang sekali memberikan penjelasan kepada peserta
didik.
Sedangkan
Berdasarkan jurnal berjudul “Pengaruh Kepemimpinan
Kepala Sekolah dalam Manajemen Konflik Berbasis
Sekolah dan Motivasi Kerja Terhadap
Kinerja Guru di SMA
Negeri Aceh Tamiang”
1.Kebanyakan
guru yang mengajar disekolah merupakan guru-guru senior sehingga merasa lebih tinggi jabatannya dengan guru yang baru
masuk di sekolah tersebut.
2.Permasalahan
pribadi guru dibawa-bawa ke sekolah sehingga memicu konflik antara guru yang
satu dengan guru yang lain.
3.Beberapa
guru yang memenuhi syarat dan telah lulus menjadi calon kepala sekolah tetapi belum
juga ditempatkan di sekolah-sekolah untuk menjadi kepala sekolah.
4.Kepala
sekolah melakukan konseling secara pribadi
bagu guru yang sering datang
terlambat
sehingga tidak merasa dihukum.
5.Kepala
sekolah dituntut menguasai manajemen konflik berbasis masalah agar konflik yang
muncul dapat berdampak positif.
6.Menyatukan
guru yang bermasalah dengan memberikan tugas dan tanggungjawab yang sama.
7.Kepala
sekolah bertanggungjawab
memberikan
motivasi kerja kepada seluruh guru untuk terus melaksanakan tugas yang telah
diberikan.
8.Kinerja
guru tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya seperti profesionalisme guru, pemberian
insentif, gaji yang layak, sehingga memungkinkan guru menjadi puas dalam
bekerja sebagai pendidik, dan budaya iklim organisasi yang kondusif sehingga dalam suasanabekerja
menjadi nyaman.
9.Kepemimpinan
kepala sekolah yang bersifat terbuka dan transparan memanajemen semua kegiatan
yang dilakukan disekolah.
B. kelebihan dan kekurangan Jurnal
a. kelebihan jurnal
Penulis menjelaskan materi dengan
baik, dan rinci. Mencantumkan data-data hasil penelitian dengan cermat. Bahasa
yang digunakan juga ringan dan mudah dipahami pembaca. Isinya bacaan
benar-benar bermanfaat.
b. kekurangan jurnal
Tidak menyertakan contoh organisasi
yang memiliki kepemimpinan yang baik, biar pembaca dapat mengambil contoh
tersebut dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Terdapat pengaruh
langsung positif antara budaya organisasi terhadap motivasi kerja guru. Hal ini
menunjukkan bahwa peningkatan budaya organisasi mengakibatkan terjadinya
peningkatan motivasi kerja guru SMA Negeri Kota Tebing Tinggi.
2.
Terdapat pengaruh langsung
positif antara gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi kerja guru.
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan gaya kepemimpinan kepala
sekolahmengakibatkan terjadinya peningkatan motivasi kerja guru SMA Negeri Kota
Tebing Tinggi.
3.
Terdapat pengaruh
langsung positif antara budaya organisasi terhadap komitmen kerja guru. Hal ini
menunjukkan bahwa peningkatan budaya organisasi mengakibatkan terjadinya
peningkatan komitmen kerja guru SMA Negeri Kota Tebing Tinggi.
4.
Terdapat pengaruh
langsung positif antara gaya kepemimpinan kepala sekolah antara komitmen kerja
guru. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan gaya kepemimpinan kepala sekolah
mengakibatkan terjadinya peningkatan komitmen kerja guru SMA Negeri Kota Tebing
Tinggi.
5.
Terdapat pengaruh
langsung positif antara motivasi kerja guru terhadap komitmen kerja guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Ambarita,
Biner. 2013. Manajemen dalam Kisaran
Pendidikan, Bandung: Alfabeta
Arikunto,
Suharsimi. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta . 2010. Dasar-Dasar
Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta.
Colquit, Jason A., Jeffery A. LePine.,
dan Michael J. Wesson. 2009. Organizational Behavior: Improving Performance
and Commitmen in the Workplace. New York: McGraw-Hill
Danim,
Sudarman dan Suparno. 2009. Manajemen dan
Kepemimpinan Transformasional Kekepala
Sekolahan Visi dan Strategi Sukses Teknologi Situasi Krisis dan Internasionalisasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Glaser,
Barney & Strauss, Anselm. 1967. The
Discovery of Grounded Theory. Chicago,
Aldine Publishing Company
Luthans,
Fred. 2006. Perilaku Organisasi,
Edisi Kesepuluh Terjemahan.
Yogyakarta:
Andi
Riduwan.
2004. Metode dan Teknik Menyusun Tesis.
Bandung: Alfabeta
Sagala,
Syaiful. 2007. Manajemen Strategik dalam
Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung:
Alfabeta
Situmorang,
Benyamin. 2012. Pengaruh Budaya Organisasi, Kepemimpinan, Komunikasi
Interpersonal, dan Kepuasan Kerja Terhadap Komitmen Organisasi Kepala Sekolah
(Studi Kasus pada SMK di Kota Medan). Disertasi. Medan: Universitas Negeri
Medan. 2009. Konsep
dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. 2008. Metode
Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta
Langganan:
Postingan (Atom)